Label

Rabu, 12 Februari 2014

Infeksi Cacing Kulit (Cutaneus Larva Migrans)

Definisi Penyakit

Cutaneus Larva Migran merupakan suatu lesi kulit yang dihasilkan oleh penetrasi dan migrsi larva dari parasit nematoda, dengan karakteristik lesi kulit eritema, serpiginosa, papular, ataupun linear vesicular sesuai dengan pergerakan larva didalam kulit.

Jenis nematoda yang lazim menyebabkan CLM ini ada Ancylostoma Braziliense (paling sering), A caninum, Uncinaria Stenocephala (Cacing tambang pada anjing Eropa), Bunostomum Phlebotomum (Cacing Tambang pada binatang ternak)

Telur dari cacing tambang tersebut banyak terdapat pada pasir atau tanah pada tempat yang rindang dan hangat. Telur tersebut pada waktunya akan menetas dan menjadi larva yang dapat melakukan penetrasi pada kulit manusia. Beberapa aktivitas yang beresiko terkena penyakit ini diataranya adalah kontak dengan tanah atau pasir yang terkontaminasi feses binatang seperti bermain di pasir, berjalan tanpa alas kaki, duduk di pantai, tukang kebun, petani, dll.

Invasi cacing ini sering terjadi pada anak – anak terutama yang sering berjalan tanpa alas kaki, atau sering berhubungan dengan tanah atau pasir. Demikian pula para petani atau tentara sering mengalami hal yang sama. 

Penyakit ini sering terdapat pada daerah tropis atau subtropisyang hangat dan lembab, misalnya di Afrika, Amerika Selatan dan Barat, di Indonesia pun banyak dijumpai.

Biologi

Cacing Tambang (Hookworm) merupakan nematoda (Round worm) parasit yang tinggal pada usus halus pada inang nya, yaitu biasanya mamalia , seperti kucing, anjing ataupun manusia. Terdapat dua spesies yang menginfeksi manusia, yaitu ancylostoma duodenale, dan necator americanus. Namun kedua cacing ini tidak menimbulkan manifestasi pada kulit manusia. Banyak cacing tambang dapat menginvasi dan menjadi parasit pada manusia (A. Ceylanicum) atau melakukan penetrasi pada kulit manusia (menyebabkan cutaneous larva migran) namun tidak berkembang menjadi klinis yang lain karena manusia bukanlah inang definitif nya, seperti A braziliense, A. Caninum (pada kucing atau anjing) , Uncinaria stenocephala. Kadang-kadang larva A caninum dapat menginvasi usus manusia, dan menyebabkan klinis eosinophilic enteritis. A caninum juga dapat menyebabkan klinis diffuse unilateral subacute neuroretinitis.






Cutaneus Larva Migran (atau dikenal juga creeping eruption) merupakan infeksi zoonotic dengan spesies cacing tambang sebagai agen infeksi, terutama yang paling sering adalah A. Braziliense dan A. Caninum. Spesies ini tidak menggunakan manusia sebagai inang definitif nya. Inang definitif dari spesies cacing ini adalah Anjing dan kucing. Namun sikus hidup pada manusia hampir mirip dengan inang definitif nya. 

Siklus hidup dimulai dari telur cacing yang keluar bersama feses hewan. Dalam kondisi yang sesuai, yaitu kelembaban dan kehangatan yang sesuai, telur akan menetas dalam 1 – 2hari. Larva rhabditiform pun keluar dari telur dan hidup dalam feses dan / atau tanah. Setelah 5 sampai 10 hari, larva rhabditiform berubah menjadi larva filariform yang infektif. Larva filariform ini dapat bertahan selam 3-4 minggu dalam kondisi lingkungan yang sesuai. Pada saat kontak dengan inang definitif (hewan), larva ini melakukan penetrasi pada kulit dan masuk ke pembuluh darah dan dibawa ke jantung dan paru – paru. Kemudain larva melakukan penetrasi pada alveoli paru dan kemudian naik menuju ke trachea bronchial tree dan kemudian tertelan dan masuk sistem pencernaan. Kemudian larva akan mencapai usus halus untuk diam dan menjadi dewasa. Cacing dewasa hidup dalam lumen usus halus dan menempel pada dinding nya. Beberapa larva tinggal di jaringan dan bisa menjadi sumber infeksi untuk anak anjing via transmammaria dan transplacenta. Manusia juga dapat terinfeksi ketika larva filariformis melakukan penetrasi pada kulit manusia. Kebanyakan pasien larva tidak dapat menjadi dewasa pada inang manusia, dan hanya migrasi tanpa tujuan dalam epidermis kadang – kadang beberapa sentimeter dalam sehari. Beberapa larva kadang tetap berada pada jaringan lebih dalam (deep tissue) setelah melakukan migrasi kulit manusia.

Patogenesis
Manusia merupakan Host cacing ini. Larva ini akan bertahan selama beberapa minggu pada tanah dan pasir. Larva tahap ketiga melakukan penetrasi pada kulit manusia dan migrasi diantara stratun germinativum dan spinosum beberapa sentimeter per hari. Larva ini akan menginduksi reaksi inflamasi eosinoflik. Beberapa larva tidak dapat berkembang, invasi ke jaringan yang lebih dalam, atau mati dalam beberapa minggu.

Klinis
  • Rasa gatal dan panas pada daerah tempat larva melakukan penetrasi. Mula-mula akan timbul papul kemudian diikuti bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3 mm da berwarna kemerahan. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan bahwa larva tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari. 
  • Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang berkelok – kelok, Polisiklik, serpiginosa,menimbul, dan berbentuk terowongan (burrow), mencapai panjang beberapa sentimeter. Rasa gatal biasanya lebih hebat pada malam hari. 
  • Lesi kulit : Serpiginosa, linear, berbentuk seperti terowongan, meninggi, eritema, dengan lebar terowongan 2-3 mm dan mengandung cairan serosa. Ada nya lesi kulit bergantung penetrasi dari larva. Larva melakukan penetrasi beberapa milimeter per hari. Dapat juga atipikal 
  • Distribusi : Tempat yang terekspos, Kebanyakan paling sering adalah kaki, tungkai bawah, pantat, anus dan tangan. 
  • Variant : Larva Currens -> disebabkan oleh S stercoralis. Lesi kulit nya berupa papul, urticarial, papulovesikel, pada tempat penetrasi larva. Berhubungan dengan pruritus yang terus menerus. Lesi kulit terdapat pada kulit anus, pantat, paha, punggung,bahu, dan perut. Pruritus hilang ketika larva masuk kedalam pembuluh darah dan menuju ke ntestinal mukosa. 
  • Temuan sistemik : Karakteristik dari adanya visceral larva migran adalah adanya hipereosinofilia yang persisten, hepatomegaly, dan Pneumonitis Loeffler syndrome). Disebabkan oleh Toxocara Canis, T. cati, A. Lumbricoides. 





Diagnosis Banding
Lesi lesi inflamasi yang berbentuk curvilinear : Larva currens, migratory lesion from other parasites, Allergic contact dermatitis, Bullous impetigo, Epidermal Dermatophytosis, Scabies,

Pemeriksaan Penunjang:
  • Hematologi : Eosinofilia perifer
  • Dermatopathology :Bagian parasit dapat dilihat pada spesimen biops

Diagnosis : Dari temuan klinis

Penatalaksanaan :
  • Prevensi : 
    • Mencegah kontak kulit secara langsung pada tanah yang terkontaminasi oleh feses.
    • Sedapat mungkin, hindari anak-anak ndeprok (duduk) di pasir, tanah, rerumputan.
    • Bila si anak sulit menghindari tempat tersebut, langkah terbaik adalah mencuci tangan-kaki dengan sabun atau sekalian dimandiin.
  • Terapi simtomatis : topical glucocorticoid dengan adanya oklusi pada lesi
  • Agen antihelminthic :
    • Agen topical : 
      •  Thiabendazole : Aplikasi topikal 10 – 15% tiabendazol ointment pada area yang terkena cukup efektif. Pada penelitian pada 53 pasien dari canada, 15% thiabendazol krim di aplikasikan pada area yang terkena 2 – 3 x sehari selama 5 hari, hanya satu yang tidak berhasil sembuh lengkap. Pada kebanyakan pasien gatal terasa berkurang, dan tidak terjadi migrasi dalam 48 jam terapi. Pada penelitian yang lebih besar (98 pasien jerman), Salep thiabendazole efektif dalam waktu 10 hari pada 96 kasus, sedangkan 2 kasus lain sukses dalam 2 minggu. 
      • Ivermectine
      • Albedazole
  • Systemic Agent:
    • Thiabendazole : 50mg/kgBB per oral per hari dalam 2 dosis (maksimum 3g per hari) selama 2 – 5hari; juga efektif ketika diaplikasikan secara topikal dalam oklusi.
    • Thiabendazole kurang efektif ketika diberikan dalam dosis tunggal. Dari penelitian, hanya 68% dari 28 pasien pada penelitian yang sembuh stelah diberikan dosis tunggal. Tingkat kesembuhan meningkat menjadi 77% ketika diberikan selama 2 hari, 87% setlah diberikan 3-4 hari dan 89 setelah diberikan selama 4 minggu. Namun Thiabendazole kurang dapat ditoleransi dibandingkan albendazole mupun ivermectine. Pada penelitian, pada pasien yang diberikan thiabendazol,terdapat beberapa efek samping antara lain Mual,muntah, sakit kepala.
    • Ivermectine 6 mg 2x sehari 
    • Albendazole 400 mg per hari selama 3 hari (sangat efektif). Pada penelitian , tingkat kesembuhan terapi dengan albendazoles mencapai 100% setelah terapi albendazole dosis tunggal 400 mg dan dengan dosis yng sama selama 2 dan 5 hari.
  • Cryosurgery
    • Liquid nitrogen pada terowongan larva. Pada penelitian, Cryoterapi yang dilakukan pada 6 pasien tidak sukses dan menyebabkan kulit lepuh semakin parah serta muncul ulserasi apda 2 pasien. Pada penelitian lain, Dari 7 pasien yang diobati dengan menggunakan metode cryoterapi, tidak ada yang terobati. Oleh karena metode ini inefektif dan menimbulkan nyeri, maka metode ini di hindari.
Prognosis :
Self limited; manusia merupakan “dead end” host. Kebanyakan larva mati dan lesi akan membaik dalam 2-8 minggu, bisa sampai 2 tahun namun jarang.

13 komentar:

  1. senag sekali saya bisa mendapat informasi dari blog ini.
    anak saya bulan januari lalu terkena caing ini dibagian kaki gara2 tidak memakai alaskaki saat jalan2 di pantai. kemudian diberikan obat seperti yag disebutkan diatas setelah sebelumya juga disemprot dengan menggunakan cairan serupa alkohol,, selang 2 minggu liner cacing terhenti dan mengering..namun sekarang tepat 2 bulan dari kejadian dulu anak saya kena lagi tu cacing di bagian pantat dekat anus....dan terapi tetap saya belikan salp sama dengan resep dari dokter...
    yang saya jadikan pertanyaan apakah cacing ini akan tetap ada didalam tubuh???jika ia bgmn cara mengobatinya???? mohon penjelasan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak pake salep apa y, anak saya skrg kena kaya gini

      Hapus
    2. Anak saya juga terkena mohon di bantu untuk obat dan penanganannya,? 081385527477

      Hapus
  2. Insya Allah dengan Obat salep SYNALTEN ADibeli di apotik..hargq murah alhwmdulillah dengan izin Allah langsung mati..baru sekali oles..

    BalasHapus
  3. bagi yang mencari obat cacing pasir silahkan klik aja tautan di bawah ini http://newhouse5758.blogspot.com/2015/08/obat-cacing-pasir.html

    BalasHapus
  4. sy sdh hampir sebulan belum sembuh sdh k dokter kulit.. disemprot hampir 6 kali.. pake salep.. pernah minum obat cacing. tp smpe skrg masih.. bahkn bekas semprot skrg mlepuh.. baeknya gmn.. smpe skrg masih gatal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah nganter temen saya yang kena cacing ini, kebetulan yang kena di tangan. langkah pertama dulu disemprot obat cacing cair sama dokter kulit, kemudian diresepin obat cacing. Obatnya dapat di kimia farma, 1 strip isinya cuma 1 tablet. Seingatku dulu per tablet 99.000 rupiah atau 2 tablet 99.000 rupiah gitu. Dan setelah minum itu, alhamdulillah sembuh. Warna stripnya warna orange, ada gambar cacing kartun.

      Hapus
  5. rendam air belerang. seperti pemandian air panas wisata Guci jawa tengah

    BalasHapus
  6. saya kena di seluruh punggung saya dan kaki,juga tangan saya,masih bulat seperti telur dan belum menetas,bagaimana cara menghilangkannya ya

    BalasHapus
  7. Kalau untuk anak di bawah 2 tahun merk salep nya apa yah soalnya gatal2 nya masih ada

    BalasHapus
  8. Gampang gampang susah, tergantung jenis cacingnnya dn daya tahan (imun) diri.
    Untuk yang jenis serangan merambat sepert trowongan berair ( bukan sepert gambar pantat diatas), itu pun jenis cacing tambangnya beda2 pula.
    Gonta ganti dokter spesialis kulit ( klo ada cari dokter spesialis penyakit tropic ) tunjukan obat yg diberikan dan tindakan medis apa aja yang dilakukkan ke dokter barunya, sampai hahis dana hampir 2 juta lebih waktu itu.
    Kebetulan jenis ganas menyebar 0.5cm/ malam
    Intinya jangan sampai menyebar, cacing dibasmi dengan cara fisik, dibasmi dengan cara kimia obat oral, dibasmi dengan imun kita.
    Bgm klo ketiganya gak mempan?
    Berdoa, makan yang bergizi, happy terus optimis cacing akan terlokalisasi dan staknan.
    Cacing tambang akan mati sendiri karena umur.
    Bekas luka masih membekas.

    Cara fisik: semprot chlor etil, diolesi salep bisa dari dokter cara extrim tp tdk disarankan jika kepepet di hutan yaitu robek kulit trowongan cacing keluarkan airnya, rendam dengan minyak tanah, di puh pijat biar minyak tanahnya masuk.
    Cara kimia: obat seperti blog2 diatas atau obat dokter.
    Untuk larva migran dari cacing tambang ganas, harus cara gabungan ketiga tiganya, klo tdk cacing makin bandel dan makin kuat harus ganti obat yang lebih keras kedokter lg.

    BalasHapus