Label

Minggu, 07 Oktober 2012

Menejemen Saluran Nafas (Airway management)

Management airway

Pentingnya menjaga patency saluran nafas (airway)

  • Penting untuk melakukan anesthesia yag aman dan sukses
  • Selama resusitasi, sering terdapat airway yang mengalami obstruksi sebagai akibat atau dapat menyebabkan hilangnya kesadaran
  • Semua dokter harus mempunyai skills maintenance airways
Masalah – masalah dengan airways

  • Suara : snoring, gurgling, crowing, wheezing
  • Indrawing spasium supaclavicular, suprasternal, dan intercostal
  • Menggunakan otot aksesoris atau adanya pergerakan respirasi yang paradox
  • Masalah utama adalah obstruksi


Penyebab obstruksi airways yang lazim :
-          Upper airways : Lidah, pembengkakan jaringan lunak, darah, vomit, direct injury
-          Laryng : Foreign material, Direct injury, Pembengkakan jaringan lunak
-          Lower airway : Sekersi, odem, darah, bronchospasm, aspirasi gastric content

Cara mngetahui adanya obstruksi saluran nafas :
-          Look : Pergerakan dada/abdomen
-          Listen : mulut dan hidung, suara nafas, dan suara abdomen
-          Feel : mulut dan hidung untuk udara yang diekspirasi

Suara abnormal obstruksi jalan nafas :
-          Snoring : adanya obstruksi upper airway oleh lidah
-          Gurgling : adanya obstrulsi saluran nafas bawah akibat adanya cairan
-          Wheezing (mengi) : akibat adanya penyempitan lower airway
-          Complete airway obetruks -> silent

Cara membersihkan airway dari material :
-          Suction
-          Postural airways maneuver
-          Basic life support choking protocol

Cara membuka saluran nafas
-          Tanpa alat :

  •  Head tilt / chin lift
  •  jaw thrust

-          Dengan alat :
  • Oronasopharyngeal airway : paling lazim digunakan.
    • Oropharingeairway : tabung plastic melengkung, untuk menvegah kembali ke faring
    • Ukurannya bervariasi : neonates – dewasa
    • Ukuran yang dipilih : ukur panjang jalan nafas dari ujung mulut sampai angulus mandibular.
    • Cara memeasukkan : masukkan dengan ujung nya menghadap ke atas sejauh palatum durum, kemudian rotasikan 180 derajat, masukkan sampai ful sampai bagian flange ada didepan gigi atau gusi pada pasien yang tidak punya gigi

  • Nasopharyngeal airway
    • Tabung plastic lunak danbulat, dimana bagian bevel ditempatkan pada faring dan bagian flange pada bagian nasal
    • Ukuran ada diameter internal
    • Memilih ukuran : bandingkan diameternya pada diameter nares
    • Cara memasukkan : sebelum dimasukkan pastikan bahwa nostril paten dan Nasopharingeal airway di beri lubrikan

  • ET :
    •  Indikasi :
      •  Memberikan PPV
      • Keep airway patent
      •  Resiko aspirasi

    • Alat untuk intubasi :
      •  Laryngoscope
      • Tracheal tube
      •  Spuit cuff
      •  Suction
      • Stethoscope
      • Tambahan : plester unutk fiksasi, Magill’s Forcep, Stylet


    •  Cara memasukkan :
      • Posisi operator yang sesuai
      •  Pegang handle laryngoscope
      •  Berikan tekanan pada cricoid. Sellick manoever :
        • Tekan pada kartilago cricois akan menekan esophagus pada cartilage VC 7 -> mencega regrgitasi passive
        •  Dilakukan dengan menggunakan jempol dan 2 jari pertama, sedangkan tangan lain diletakkan di belakang leher
        • Diaplikasikan pada pasien yang hilang kesadaran sampai tabung sudah bias dimasukkan
      • Metode membuka mulut
      •  Masukkan laryngoscope blade –untuk mengontrol lidah
      • Tongue displacement medially – untuk visualisasi glottis
      • Advanced laryngoscope into position ( vallecula ntuk curve blade, under epiglottis unutk straight blade
      •  Naikkan basis lingua (lidah) dan ekspos pembukaan glottis
      •  Insert ET dengan pengelihatan langsung sampai 23 – 25 cm pada lidah
      •  Ambil stylet dan laryngoscope, inflasikan tabung
      • Confirmasi posisi tabung – dengan mendengar suara udara, tau CO2 detector
      •   Amankan ET


    •  Komplikasi ET :
·         Hypoxia, akibat :
o   Intubasi esophageal
o   Gagal intubasi dan tidak mampu ventilasi
o   Gagal ventilasi setelah intubas
o   Aspirasi
·         Trauma -> lidah, gigi, bibir, faring, larynx, hidung, nsopharinx -> pembengkakanan dan pendarahan
·         Aktivitas reflex
o   Hipertensi
o   Vomiting
o   Laryngeal spasm



Laryngeal mask airway (LMA)
§  Terdiri dari mask yang ditempatkan di laring. Terdapat inflatable cuff -> mengunci dan menstabilkan
§  Ukuran bermacam macam
§  Untuk PPV, tapi cegah high inflation pressure
§  Keuntungan disbanding face mask :
·         Tidak terpengaruh posisi pasien
·         Tidak perlu menjaga posisi
·         Mengurang resiko aspirasi
·         Berguna untuk ET yang sulit dan selama prosedur CPR
§  Cara memasukkan :


Emergency Airways Technique
-          Needle Cricothiroidotomy
o   Pada membrane cricothyroid, puncture dengan menggunakan large bore cannula (12 – 14 gauge) menempel pada syringe
o   Aspirasi udara
o   Sudut jarumnya 45 derajat kearah caudal
o   Masukka oksigen aliran tinggi pada canulla dan insufflasi selama 1 detik, kmudian selama 4 detik untuk istirahat
o   Batasi 30 menit (bahay hypercarbia), butuh definitive airway
-          Surgical cricothiroidotomy : make enough incision melalui membrane cricothiroid
o   Masukkan tracheotomy atau tracheat tube
o   Advantage : adekuat ventilasi, menjamin oksigenasi, eliminasi CO2, airway suction unutk mengilangkan darah dan debris
-          Face mask :
o   Berbagai ukuran, yang paling kecil, paling bagus mengunci digunakan untuk memenimalkan dead space
o   Transparent mask : identifikasi vomit
o   Harus di disinfeksi dulu
o   Masalah :
§  Inability maintain seal
§  Fatigue
§  Risk aspirasi

0 komentar:

Posting Komentar